SASTRA SEBAGAI GAYA HIDUP DIKALANGAN REMAJA
Sumber foto : Opini Bicara Sastra
Sebagai Kritik Sosial
Karya sastra merupakan produk
kreatif yang dihasilkan oleh manusia melalui ragam bentuk tulisan. Seseorang
bisa menciptakan sebuah karya sastra dari ide, buah pikir, pengalaman,
pandangan hidup atau potret kehidupan yang dirangkai menjadi kalimat-kalimat
indah. Bagi penulis membuat karya sastra seperti melukis kata-kata, perpaduan
antara luapan perasaan, emosi, dan kemampuan menulis seseorang.
Mursal
Esten (1978:9) mengatakan bahwa Sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan
dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan
masyarakat) melalui bahasa sebagai mediaum dan memiliki efek yang positif terhadap
kehidupan manusia (kemanusiaann). Kemudian Sapardi (1979 :1) memaparkan bahwa
sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa
itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan,
dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.
Seiring
dengan perkembangan zaman, cara manusia melihat dan menilai karya sastra sudah
berbeda. Jika dulu kesusastraan atau karya sastra hanya digeluti oleh sastrawan,
seniman, atau penggiat sastra, karena teorinya, bahwa orang yang menguasai
kesusastraan dan seni adalah orang yang berbudaya tinggi, oleh karena itu
membaca buku sastra merupakan pelajaran wajib di negara barat sana. Sedangkan pada
zaman sekarang, siapapun bisa terjun ke dunia sastra, dunia literasi. Apalagi
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, orang-orang bisa menulis di
blog pribadinya, di suatu platfoam,
di media cetak maupun online,
tentunya dengan bantuan tangan redaktur yang mengolah kembali atau menyunting
terlebih dahulu karya sastra agar layak untuk dikonsumsi pembaca.
Berbicara
mengenai kesusastraan yang telah masuk dan diterima oleh setiap lapisan masyarakat,
tentunya tidak lepas dari bantuan jejaring sosial atau sosial media sebagai
sarana yang lebih akrab digunakan untuk membaca, menulis, dan menshare sebuah karya tulis. Jadi semua
orang bisa dengan mudah menikmatinya.
Belakangan
ini geliat dunia sastra di kalangan remaja cukup populer, mengapa demikian?
karena banyak dari kalangan remaja saat ini yang menjadikan sastra sebagai gaya
hidup. Mari kita ulas lebih detail apa maksudnya sastra sebagai gaya hidup
dikalangan remaja. Karena fase remaja adalah fase transisi yang membutuhkan
banyak pengakuan, pencarian jati diri, popularitas, dan eksistensi demi
menjadi seseorang yang disukai banyak
penggemar, keinginan untuk menjadi trend
center, atau hanya mengikuti role
model yang sedang hits. Maka
tidak sedikit remaja yang memilih sastra sebagai media untuk mencapai
keinginannya. Bisa kita lihat di social
media seperti instagram, banyak remaja yang memposting/mengupload fotonya dengan tambahan caption yang puitis atau memakai quote dari seorang sastrawan kawakan sebagai bumbu pelengkap supaya
mendapat banyak like. Walaupun demikian
ada juga remaja yang beralasan ingin mengenalkan dan mengembangkan dunia
literasi, memperlihatkan betapa indah dan artistik sebuah quote atau puisi singkat.
Maka
tak heran jika kita sering menjumpai, para penyair muda, penulis muda berbakat,
yang karya dan tulisannya sudah dimuat dimana-mana, bahkan sudah banyak menerbitkan
buku. Contohnya bisa kita lihat remaja dari kalangan artis salah satunya seperti
Prili latuconsina yang menulis buku berupa antologi puisi berjudul “5 Detik dan
Rasa Rindu”, Erisca Febriani penulis buku “Dear Nathan” yang tokoh utamanya
yaitu Nathan sempat digandrungi para remaja bahkan sampai difilmkan, pemerannya
adalah Jefri Nikol pemain muda berbakat dan ganteng. Anak muda lainnya yaitu
Gita Savitri Devi seorang Vlogger/Youtuber yang sudah menerbitkan buku berjudul
“Rentang kisah”.
Itu
artinya bahwa sastra bisa ditekuni oleh siapapun dan dari berbagai macam
profesi yang melatar belakangi remaja. Beberapa illustrator muda pun pernah
menerbitkan bukunya seperti Naela Ali dan Lala Bohang. Selain itu penulis juga
sering menemukan acara yang mengangkat tema sastra yang dibuat oleh para
remaja, acara atau kegiatan tersebut semacam exibithion, pameran, dan workshop.
Kegiatan tersebut selain dinilai bermanfaat tentunya mampu menghidupkan
jiwa-jiwa sastra dalam diri para remaja. Belum lama penulis menemukan exibithion dengan judul “Catatan Pram” yang kesemuanya seputar
Pramoedya Ananta Toer salah satu sastrawan/novelis Indonesia yang sangat
terkenal dan antusias peminat acara tersebut sangat banyak, tentunya mayoritas
dari kalangan remaja. Ketika beberapa bulan yang lalu penulis menghadiri launching buku “Yang Fana Adalah Waktu”
karya bapak Sapardi Djoko Damono di Perpustakaan Nasional RI, kebanyakan
pengunjungnya adalah anak-anak sekolah, SMP dan SMA, sebagian lagi mahasiswa
dan umum, setelah selesai acara launching
buku mereka terlihat sangat tertarik dan rela antre panjang untuk membeli buku
sekaligus minta tanda tangan penulisnya, SDD.
Tak
ketinggalan panggung teater dan musikalisasi puisi yang juga termasuk produk
sastra begitu digemari oleh para remaja, banyak teater-teater yang anggotanya merupakan
kalangan remaja itu sendiri, mereka yang membuat naskah, mereka yang
memerankan, dan remaja lainnya menyaksikan. Dari panggung teater kita beralih
ke dunia sastra online, tidak sedikit
penggiat sastra muda yang membentuk sebuah grup belajar sastra online, disitu mereka berkumpul,
berdiskusi, sharing hal-hal seputar
sastra, dan saling menshare karya
tulis, kadang juga diadakan seminar daring sastra yang bisa mempermudah remaja
untuk mendapat ilmu kesusastraan.
Jadi,
dunia sastra dewasa ini memang sudah dijadikan sebagai gaya hidup dikalangan
remaja, mereka bisa menikmati, mengapresiasi, juga menciptakan karya sastra
sebagai bentuk gerakan literasi. Karena sastra tidak bisa lepas dari hampir
semua aspek sosial, bahkan dunia retailpun
menggunakan sastra sebagai pemikat dan daya tarik konsumen, seperti halnya café yang digandrungi remaja, dinding-dinding
café dihiasi menggunakan kata-kata puitis, quote, kalimat yang diukir indah
sebagai nilai jual sebuah café.
Tentang Penulis
Bernama
lengkap Dina Hardiani Hilmah Sholihat, lahir di rumah saja pada
7 Desember 2027. Gadis yang bercita-cita ingin menjadi jurnalis ini adalah
seorang lulusan S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang. Penulis lebih suka
menuliskan nama Dina Hilma pada setiap karyanya, karena lebih singkat dan mudah
diingat. Penulis merupakan seorang yang menyukai buku, literasi, dan hal-hal
yang berbau seni. Saat ini penulis tinggal di sebuah kota dekat dengan ibu kota
Jakarta, yaitu di Komplek Bukit Pamulang Indah, Pamulang
Tangerang Selatan, namun jika ingin menghubungi menghubunginya bisa melalui media
sosial Instagram @dinahilmaa, Facebook Dhina Hardiani Hilma Sholihat,
atau melalui email dinahardiani7@gmail.com
