BTemplates.com

Mengenai Saya

Foto saya
Nama beken Dindin, julukan Ranger Pink, sama seperti manusia pada umumnya yang makan nasi sebagai karbohidrat harian. An ambivert, literature and art enthusias �� find me on Instagram @dinahilmaa

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 14 Juli 2018

SASTRA SEBAGAI GAYA HIDUP DIKALANGAN REMAJA





Sumber foto : Opini Bicara Sastra Sebagai Kritik Sosial

            Karya sastra merupakan produk kreatif yang dihasilkan oleh manusia melalui ragam bentuk tulisan. Seseorang bisa menciptakan sebuah karya sastra dari ide, buah pikir, pengalaman, pandangan hidup atau potret kehidupan yang dirangkai menjadi kalimat-kalimat indah. Bagi penulis membuat karya sastra seperti melukis kata-kata, perpaduan antara luapan perasaan, emosi, dan kemampuan menulis seseorang.
Mursal Esten (1978:9) mengatakan bahwa Sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai mediaum dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaann). Kemudian Sapardi (1979 :1) memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.
Seiring dengan perkembangan zaman, cara manusia melihat dan menilai karya sastra sudah berbeda. Jika dulu kesusastraan atau karya sastra hanya digeluti oleh sastrawan, seniman, atau penggiat sastra, karena teorinya, bahwa orang yang menguasai kesusastraan dan seni adalah orang yang berbudaya tinggi, oleh karena itu membaca buku sastra merupakan pelajaran wajib di negara barat sana. Sedangkan pada zaman sekarang, siapapun bisa terjun ke dunia sastra, dunia literasi. Apalagi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, orang-orang bisa menulis di blog pribadinya, di suatu platfoam, di media cetak maupun online, tentunya dengan bantuan tangan redaktur yang mengolah kembali atau menyunting terlebih dahulu karya sastra agar layak untuk dikonsumsi pembaca.
Berbicara mengenai kesusastraan yang telah masuk dan diterima oleh setiap lapisan masyarakat, tentunya tidak lepas dari bantuan jejaring sosial atau sosial media sebagai sarana yang lebih akrab digunakan untuk membaca, menulis, dan menshare sebuah karya tulis. Jadi semua orang bisa dengan mudah menikmatinya.
Belakangan ini geliat dunia sastra di kalangan remaja cukup populer, mengapa demikian? karena banyak dari kalangan remaja saat ini yang menjadikan sastra sebagai gaya hidup. Mari kita ulas lebih detail apa maksudnya sastra sebagai gaya hidup dikalangan remaja. Karena fase remaja adalah fase transisi yang membutuhkan banyak pengakuan, pencarian jati diri, popularitas, dan eksistensi demi menjadi  seseorang yang disukai banyak penggemar, keinginan untuk menjadi trend center, atau hanya mengikuti role model yang sedang hits. Maka tidak sedikit remaja yang memilih sastra sebagai media untuk mencapai keinginannya. Bisa kita lihat di social media seperti instagram, banyak remaja yang memposting/mengupload fotonya dengan tambahan caption yang puitis atau memakai quote dari seorang sastrawan kawakan sebagai bumbu pelengkap supaya mendapat banyak like. Walaupun demikian ada juga remaja yang beralasan ingin mengenalkan dan mengembangkan dunia literasi, memperlihatkan betapa indah dan artistik sebuah quote atau puisi singkat.
Maka tak heran jika kita sering menjumpai, para penyair muda, penulis muda berbakat, yang karya dan tulisannya sudah dimuat dimana-mana, bahkan sudah banyak menerbitkan buku. Contohnya bisa kita lihat remaja dari kalangan artis salah satunya seperti Prili latuconsina yang menulis buku berupa antologi puisi berjudul “5 Detik dan Rasa Rindu”, Erisca Febriani penulis buku “Dear Nathan” yang tokoh utamanya yaitu Nathan sempat digandrungi para remaja bahkan sampai difilmkan, pemerannya adalah Jefri Nikol pemain muda berbakat dan ganteng. Anak muda lainnya yaitu Gita Savitri Devi seorang Vlogger/Youtuber yang sudah menerbitkan buku berjudul “Rentang kisah”.
Itu artinya bahwa sastra bisa ditekuni oleh siapapun dan dari berbagai macam profesi yang melatar belakangi remaja. Beberapa illustrator muda pun pernah menerbitkan bukunya seperti Naela Ali dan Lala Bohang. Selain itu penulis juga sering menemukan acara yang mengangkat tema sastra yang dibuat oleh para remaja, acara atau kegiatan tersebut semacam exibithion, pameran, dan workshop. Kegiatan tersebut selain dinilai bermanfaat tentunya mampu menghidupkan jiwa-jiwa sastra dalam diri para remaja. Belum lama penulis menemukan exibithion dengan judul  “Catatan Pram” yang kesemuanya seputar Pramoedya Ananta Toer salah satu sastrawan/novelis Indonesia yang sangat terkenal dan antusias peminat acara tersebut sangat banyak, tentunya mayoritas dari kalangan remaja. Ketika beberapa bulan yang lalu penulis menghadiri launching buku “Yang Fana Adalah Waktu” karya bapak Sapardi Djoko Damono di Perpustakaan Nasional RI, kebanyakan pengunjungnya adalah anak-anak sekolah, SMP dan SMA, sebagian lagi mahasiswa dan umum, setelah selesai acara launching buku mereka terlihat sangat tertarik dan rela antre panjang untuk membeli buku sekaligus minta tanda tangan penulisnya, SDD.
Tak ketinggalan panggung teater dan musikalisasi puisi yang juga termasuk produk sastra begitu digemari oleh para remaja, banyak teater-teater yang anggotanya merupakan kalangan remaja itu sendiri, mereka yang membuat naskah, mereka yang memerankan, dan remaja lainnya menyaksikan. Dari panggung teater kita beralih ke dunia sastra online, tidak sedikit penggiat sastra muda yang membentuk sebuah grup belajar sastra online, disitu mereka berkumpul, berdiskusi, sharing hal-hal seputar sastra, dan saling menshare karya tulis, kadang juga diadakan seminar daring sastra yang bisa mempermudah remaja untuk mendapat ilmu kesusastraan.
Jadi, dunia sastra dewasa ini memang sudah dijadikan sebagai gaya hidup dikalangan remaja, mereka bisa menikmati, mengapresiasi, juga menciptakan karya sastra sebagai bentuk gerakan literasi. Karena sastra tidak bisa lepas dari hampir semua aspek sosial, bahkan dunia retailpun menggunakan sastra sebagai pemikat dan daya tarik konsumen, seperti halnya café yang digandrungi remaja, dinding-dinding café dihiasi menggunakan kata-kata puitis, quote, kalimat yang diukir indah sebagai nilai jual sebuah café.

Tentang Penulis
Bernama lengkap Dina Hardiani Hilmah Sholihat, lahir di rumah saja pada 7 Desember 2027. Gadis yang bercita-cita ingin menjadi jurnalis ini adalah seorang lulusan S1 Sastra Indonesia Universitas Pamulang. Penulis lebih suka menuliskan nama Dina Hilma pada setiap karyanya, karena lebih singkat dan mudah diingat. Penulis merupakan seorang yang menyukai buku, literasi, dan hal-hal yang berbau seni. Saat ini penulis tinggal di sebuah kota dekat dengan ibu kota Jakarta, yaitu di Komplek Bukit Pamulang Indah, Pamulang Tangerang Selatan, namun jika ingin menghubungi menghubunginya bisa melalui media sosial Instagram @dinahilmaa, Facebook Dhina Hardiani Hilma Sholihat, atau melalui email dinahardiani7@gmail.com